Akuntansi perusahaan konstruksi berbeda dari usaha dagang. Satu proyek berjalan berbulan-bulan, ditagih per termin, dipotong uang muka dan retensi, dan pendapatannya diakui menurut progres, bukan menurut tagihan. Karena itu setiap transaksi harus dicatat per proyek, dan laporan bulanan selalu dimulai dari posisi setiap proyek.
Laporan yang dibuat setiap bulan
| Laporan | Isi | Untuk apa |
|---|---|---|
| Laporan biaya per proyek (job cost) | Biaya material, upah, subkon, alat dan overhead proyek per kode pekerjaan, dibanding RAB | Melihat proyek mana yang boros dan di pekerjaan apa |
| Laporan WIP (posisi kontrak) | Nilai kontrak, estimasi biaya total, biaya sampai cut-off, persen selesai, pendapatan diakui, yang sudah ditagih | Menghitung pendapatan yang benar dan lebih atau kurang tagih |
| Laba rugi | Pendapatan diakui dikurangi biaya, per proyek dan untuk perusahaan | Mengetahui untung sebenarnya, bukan hanya uang yang masuk |
| Neraca | Kas, piutang, aset kontrak, retensi, hutang, uang muka diterima, liabilitas kontrak | Posisi harta dan kewajiban di tanggal cut-off |
| Arus kas | Uang masuk dan keluar menurut tanggal pembayaran | Memastikan kas cukup |
| Umur piutang dan hutang | Tagihan menurut berapa lama lewat jatuh tempo | Menentukan siapa yang harus ditagih atau dibayar lebih dulu |
Akun yang khas di perusahaan konstruksi
| Akun | Jenis | Isinya |
|---|---|---|
| Piutang termin | Aset | Termin yang sudah ditagih dan belum dibayar |
| Piutang retensi | Aset | Retensi yang ditahan pemberi kerja sampai masa pemeliharaan selesai |
| Aset kontrak (kurang tagih) | Aset | Pekerjaan yang sudah dikerjakan tetapi belum ditagih |
| Uang muka diterima | Liabilitas | Uang muka dari pemberi kerja yang belum dipotong dari termin |
| Liabilitas kontrak (lebih tagih) | Liabilitas | Tagihan yang melebihi pekerjaan yang sudah dikerjakan |
| Hutang usaha dan hutang subkon | Liabilitas | Tagihan supplier dan subkon yang belum dibayar |
| Hutang retensi subkon | Liabilitas | Retensi yang Anda tahan dari subkon |
| Pendapatan kontrak | Pendapatan | Pendapatan yang diakui menurut progres |
| Biaya proyek | Biaya | Dipecah per proyek dan per kode pekerjaan: material, upah, subkon, alat, overhead proyek |
| Beban PPh final jasa konstruksi | Biaya | PPh final yang dipotong pemberi kerja dari setiap pembayaran |
Mengakui pendapatan menurut progres
Menurut PSAK 72 (sejak 2024 bernomor PSAK 115), pendapatan kontrak konstruksi diakui sepanjang waktu bila pemberi kerja menguasai bangunan selama dikerjakan, yang umum pada kontrak konstruksi. Persen selesai bisa diukur dari biaya (biaya sampai cut-off dibagi estimasi biaya total) atau dari progres fisik hasil opname. Contoh dengan metode biaya:
| Item | Nilai |
|---|---|
| Nilai kontrak | Rp1.000.000.000 |
| Estimasi biaya total | Rp800.000.000 |
| Biaya sampai cut-off | Rp400.000.000 |
| Persen selesai | 400 ÷ 800 = 50% |
| Pendapatan diakui | 50% × Rp1.000.000.000 = Rp500.000.000 |
| Laba kotor diakui | Rp500.000.000 dikurangi Rp400.000.000 = Rp100.000.000 |
| Sudah ditagih | Rp450.000.000 |
| Kurang tagih (aset kontrak) | Rp500.000.000 dikurangi Rp450.000.000 = Rp50.000.000 |
Bila sudah ditagih lebih dari pendapatan yang diakui, selisihnya lebih tagih dan dicatat sebagai liabilitas kontrak. Lebih tagih membantu kas sekarang, tetapi berarti sisa pekerjaan nanti dibiayai dengan tagihan yang lebih kecil. Estimasi biaya total harus diperbarui setiap bulan: bila tidak, persen selesai dan laba ikut salah.
Laporan WIP: satu baris per proyek
| Kolom | Cara menghitung |
|---|---|
| Nilai kontrak | Kontrak ditambah adendum yang sudah disetujui |
| Estimasi biaya total | Biaya sampai cut-off ditambah perkiraan biaya untuk menyelesaikan |
| Biaya sampai cut-off | Dari laporan biaya per proyek, termasuk biaya yang sudah terjadi tetapi belum ditagih supplier |
| Persen selesai | Biaya sampai cut-off ÷ estimasi biaya total |
| Pendapatan diakui | Persen selesai × nilai kontrak |
| Sudah ditagih | Jumlah termin yang sudah ditagih |
| Lebih atau kurang tagih | Sudah ditagih dikurangi pendapatan diakui |
| Estimasi laba akhir | Nilai kontrak dikurangi estimasi biaya total. Bila rugi, seluruh rugi diakui segera |
Contoh jurnal untuk satu termin
Contoh termin Rp200 juta (sebelum PPN) dengan potongan uang muka Rp40 juta, retensi 5% Rp10 juta dan PPh final 2,65% Rp5,3 juta, seperti di artikel cash flow proyek. PPN dicatat terpisah di akun PPN keluaran.
| Saat | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Termin ditagih | Piutang termin Rp200.000.000 | Pendapatan kontrak Rp200.000.000 |
| Pembayaran diterima | Bank Rp144.700.000; Uang muka diterima Rp40.000.000; Piutang retensi Rp10.000.000; Beban PPh final Rp5.300.000 | Piutang termin Rp200.000.000 |
| Penyesuaian akhir bulan dari laporan WIP (kurang tagih) | Aset kontrak | Pendapatan kontrak |
| Penyesuaian akhir bulan dari laporan WIP (lebih tagih) | Pendapatan kontrak | Liabilitas kontrak |
Langkah tutup buku bulanan
- Tetapkan tanggal cut-off yang sama untuk biaya, progres dan kas.
- Rekonsiliasi setiap rekening bank dengan rekening koran.
- Cocokkan piutang dengan riwayat pembayaran, dan hutang dengan tagihan supplier dan PO.
- Catat biaya yang sudah terjadi tetapi belum ditagih (barang diterima, pekerjaan subkon dari opname).
- Perbarui estimasi biaya total setiap proyek bersama tim lapangan.
- Buat laporan WIP, lalu jurnal penyesuaian aset kontrak atau liabilitas kontrak.
- Susun laba rugi per proyek, laba rugi perusahaan, neraca dan arus kas.
Catatan untuk developer properti
Penjualan unit rumah ke pembeli sering tidak memenuhi syarat pengakuan sepanjang waktu, sehingga pendapatan diakui saat unit diserahkan. Sampai serah terima, uang muka dan cicilan pembeli dicatat sebagai liabilitas kontrak, dan biaya pembangunan unit dicatat sebagai persediaan. Pastikan perlakuannya dengan akuntan Anda.
Kesalahan yang sering terjadi
- Pendapatan dicatat sebesar tagihan, sehingga laba naik turun mengikuti jadwal termin, bukan pekerjaan.
- Biaya tidak dipecah per proyek, sehingga proyek rugi tertutup proyek lain.
- Estimasi biaya total tidak pernah diperbarui sejak penawaran.
- Uang muka dicatat sebagai pendapatan saat diterima.
- Retensi tidak dicatat sebagai piutang, sehingga lupa ditagih saat masa pemeliharaan selesai.
- PPh final dipotong pemberi kerja tetapi tidak dicatat, sehingga piutang tidak pernah lunas di buku.
Panduan lengkapnya ada di Cara membuat laporan keuangan proyek konstruksi di Google Sheets. Di sana ada template gratis (Excel atau Google Sheets) dan pemeriksa yang membaca workbook Anda sendiri.
Siap memakai agen Komander di proyek Anda?
Bila workbook Anda sudah lengkap, ajukan pilot: kami bantu menghubungkan data proyek Anda ke Agen Keuangan, Biaya dan Jadwal, dan meninjau laporan pertamanya bersama Anda.
Kirim lewat GmailAplikasi email
Kirim ke melwani@komander.ai. Hasil pemeriksaan workbook Anda ikut dilampirkan bila ada; isi workbook tidak dikirim.
Pertanyaan umum
Apa itu laporan WIP konstruksi?
Laporan posisi setiap kontrak yang berjalan: nilai kontrak, estimasi biaya, biaya sampai cut-off, persen selesai, pendapatan diakui, yang sudah ditagih, dan selisih lebih atau kurang tagih.
Kapan pendapatan konstruksi diakui?
Menurut PSAK 72 (PSAK 115), umumnya sepanjang waktu menurut persen selesai, bila pemberi kerja menguasai bangunan selama dikerjakan.
Apa beda aset kontrak dan piutang?
Piutang adalah tagihan yang sudah dikirim. Aset kontrak adalah pekerjaan yang sudah dikerjakan tetapi belum boleh atau belum ditagih.
Bagaimana mencatat uang muka dari pemberi kerja?
Sebagai liabilitas (uang muka diterima), lalu dikurangi setiap kali termin dipotong angsuran uang muka.
Referensi
- Jurnal.id: PSAK 72: pengakuan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan
- Kemdikbud SPADA: Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan: materi kuliah PSAK 72
- EisnerAmper: Construction WIP Report: lebih dan kurang tagih di laporan WIP
- DDTCNews: Tarif PPh Final Jasa Konstruksi: tarif PPh final menurut PP 9/2022